http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-land.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-trivia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/youth-ministry.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/eksegetis-study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/free-ebook-old-testament.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/christian-life.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/kristenpedia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/misiologi-great-commission.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/pendidikan-agama-kristen.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/pelayanan-anak.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/sermon.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/toko-buku.html

KONSEP PENDERITAAN DALAM KITAB AYUB DAN APLIKASI MASA KINI

gambar dari : www.jesuslovesyoutoday.org
Mengapa Orang Benar Menderita?


Pendahuluan 

Mengapa manusia mengalami penderitaan? Merupakan suatu pertanyaan yang sudah berusaha dijawab oleh manusia sejak zaman dahulu. Beberapa orang berpendapat penderitaan sebagai akibat kejahatan. Kalau orang jahat saja yang menderita itu adalah hal yang wajar, namun kebanyakan orang benar lebih banyak menderita dibanding orang jahat. Sehingga jawaban ini belum cukup memuaskan. Sedangkan disisi lain Allah adalah kasih dan mahakuasa, kenapa justru orang-orang benar yang senantiasa setia kepadanya dibiarkan mengalami kesusahan, yang terkadang amat berat? Kehidupan Ayub barangkali merupakan contoh kasus yang paling tepat untuk mempertanyakan, mengapa orang saleh menderita?
Menilik kembali latar belakang kehidupan Ayub dalam Ayub 1:1-5, maka kita akan terkagum-kagum. Kesuksesan secara duniawi dia miliki, keluarga yang bahagia, kekayaan dan kehormatan melangkapi hidupnya. Tidak hanya sampai disitu, kehidupan ibadahnya dan kesalehannya dipuji oleh TUHAN. Sampai tiba pada saat dia mengalami cobaan yang sangat berat. Anak-anaknya mati, harta bendanya lenyap, tubuhnya ditimpa penyakit maha dahsyat, dan isterinya dan sahabat-sahabatnya melawannya (Ayub1-2). Sampai pada fakta ini kita bertanya mengapa menderita? Setidaknya ada beberapa alasan yang diberikan dalam kitab Ayub, mengapa orang benar mengalami penderitaan, antara lain:

Menurut Iblis
Penderitaan itu adalah alatnya untuk menjauhkan atau memisahkan orang percaya dari Allah (Ayub 1:9-11) Argumennya adalah dengan kebahagiaan dan kelimpahan yang diberikan Allah kepada Ayub membuat Ayub menjadi manusia saleh. Dan kalau Allah berhenti memberkati Ayub maka dia akan berhenti menyembah Allah. Dengan demikian Iblis berusaha menciptakan kesusahan dan derita dalam kehidupan manusia (Ayub). Dalam Ayub 2:4-7 ketika Iblis melihat bahwa derita yang dialami oleh Ayub belum berhasil membuat Ayub mengutuki Tuhan, maka Iblis menambah penderitaan Ayub. Dalam kasus ini memang kadang kala Iblis menang dan dapat membuat manusia itu berbalik dari Allah. Contohnya adalah isteri Ayub yang menyuruh Ayub mengutuki Allah. Namun sesungguhnya penderitaan tidak bisa memisahkan manusia dari Allah. Malahan penderitaan yang dimaksudkan Iblis untuk memisahkan manusia dari Allah, justru membawa orang semakin dekat kepada Tuhan.

Menurut teman-teman Ayub
Pendapat teman-teman Ayub ini tidak lepas dari kosep-konsep mengenai penderitaan yang berkembang pada waktu itu yaitu “ bahwa penderitaan itu sebagai hukuman dari dosa, dan orang menderita oleh karena kesalahan yang diperbuatnya”
Konsep mereka terhadap penderitaan itu adalah:

  • Bencana atau penderitaan tidak datang dengan sendirinya (5:5-7). Tetapi kalau orang mengalami kesusahan itu diakibatkan oleh dosanya sendiri (10:14-15)
  • Penderitaan sebagai teguran Allah adalah suatu kebahagiaan (5:17-23). Karena Tuhan menyediakan pertolongan.
  • Kefasikan sebagai sumber penderitaan/bencana (15:20-28)
  • Dosa membawa penderitaan dan penghukuman dari Allah (22:1-5, 23-28). Jalan keluarnya adalah dengan bertobat.
  •  Penderitaan datang sebagai akibat melupakan Allah (8:1-5,13). Selain itu ketiga sahabatnya yang pertama, Elihu juga memberikan pernyataan tentang penderitaan yang walaupun konsepnya hampir sama dengan ketiga sahabatnya yang lain.
  • Bahwa dalam segala yang dialami manusia Allah tidak berbuat curang. Apa yang dilakukan Allah kepada seseorang setimpal dengan apa yang diperbuat orang tersebut (34:10-12). Tuhan tidak pernah memandang rupa dalam menjatuhkan penghukuman. Jadi tidak ada gunanya menyalahkan Allah dalam pengalaman penderitaan kita.
  • Tujuan penderitaan yang dialami seseorang adalah jalan kepada pertobatan. Sesungguhnya Allah itu mulia (36:22) dan jalan hidup yang dipilih Tuhan untuk seseorang itu sungguh sempurna. Seseorang kadang kala harus mengalami kesengsaraan supaya dia sadar akan kesalahannya. Elihu berpendapat penderitaan itu seringkali sebagai jalan menuju pertobatan (36:11-16)    
Namun alasan-alasan inipun, sebab sahabat-sahabatnya mengarah kepada suatu kesimpulan yaitu bahwa Ayub menderita oleh karena dosa dan kejahatannya. Tetapi Allah sendiripun memuji kesalehan Ayub baik dihadapan Iblis (1:8), maupun dihadapan teman-temannya (42:7). Ini membantah pandangan sahabat-sahabatnya.

Menurut Ayub
Terjadi beberapa perubahan respon Ayub dalam menanggapi penderitaan yang dialaminya. Inilah beberapa pandangan terhadap penderitaan yang dialaminya.
  • Penderitaan itu datangnya atas seizin Allah. Dia percaya segala sesuatu yang baik maupun penderitaan itu datangnya dari Allah. Misalnya dalam Ayub 1:21 dan Ayub 2:10 dia mengatakan bukan hanya yang baik yang datang dari Allah, tetapi juga yang buruk (yang buruk dalam konteks penderitaan).
  •  Kehidupan manusia adalah suatu pergumulan. Dalam pasal 6-10 Ayub mengungkapkan pendapatnya tentang hakekat hidup manusia. Manusia hidup dalam berbagai pergumulan, hidupnya penuh dengan kesusahan. Manusia membutuhkan tempat perlindungan. Dalam bagian kitab ini juga Ayub mengungkapkan keputusasaanya menghadapi pergumulannya, sehingga dia mengatakan kalau bisa secepatnya mati (7:15).
  •  Ada maksud Allah dalam penderitaan yang dialaminya. Pernyataan Ayub dalam pasal 9-10,11-17 mengemukakan pendapatnya tentang makna penderitaan itu sekaligus juga mengungkapkan pembenaran dirinya. Di satu sisi dia yakin bahwa hikmat Allah tidak terbatas. Sehingga sesuatu yang terjadi itu, termasuk penderitaannya ada dalam rancangan hikmat Allah. Dan ada tujuan Allah mengizinkan penderitaan itu datang padanya. Namun di sisi lain Ayub membela diri, dengan argumen bahwa dia tidak bersalah apa-apa. Khususnya pada pasal 13 merupakan pembelaan dirinya, dengan bertanya mengapa dia harus dihukum seperti itu? Puncaknya adalah pada pasal 31 Ayub menyatakan ketidak bersalahannya dihadapan Allah, dan dia minta jawaban dari Allah mengapa menderita (31:35) “hendaklah yang Mahakuasa menjawab aku”.
  •  Allah akan menolong dan membebaskan manusia dari penderitaannya. Pemikiran ini di ungkapkan Ayub pada pasal 19:25-27. Bahwa pada akhirnya Allah sendiri akan bangkit untuk menolongnya dari kesengsaraannya.
 Penderitaan dan Allah
Berikut ini adalah beberapa poin yang dapat disimpulkan mengenai hubungan Allah dengan penderitaan orang benar (khususnya Ayub)
a.       Tuhan bukan penyebab penderitaan manusia (Ayub). Penderitaan itu terjadi atas seizin Tuhan. Dalam permulaan kitab ini, dalam dialog antara Tuhan dan Iblis, Allah mengizinkan manusia mengalami penderitaan sampai batasan tertentu. Tidak ada perkara yang luput dari perhatian Allah. Pencobaan yang dialami manusia bisa terjadi karena Tuhan mengizinkan hal itu terjadi.
b.      Ada maksud Tuhan dalam penderitaan manusia. Dalam pasal 38-39 Tuhan bertanya kepada Ayub, tentang apa yang dipikirkan Ayub. Dapatkah dia memahami rancangan Tuhan? Manusia seringkali mengandalkan perasaannya pada saat mengalami kesusahan, sehingga tidak mampu memahami rencana Allah dalam kehidupannya. Tuhan merancangkan banyak kebaikan, dalam penderitaan manusia. Dari sudut pandang Allah penderitaan itu adalah salah satu cara supaya manusia menyadari posisinya dihadapan Allah. Ayub adalah manusia yang saleh sebelum mengalami masa kesusahan itu. Namun kesalehannya masih perlu dimurnikan lagi. Sehingga lewat penderitaan yang  dia alami dia pada akhirnya mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan (Ayub 42:1-6) Ayub menyadari posisinya dihadapan Allah dan merendahkan diri kapada Tuhan.

Kesimpulan dan Aplikasi Masa Kini
         
Setelah diskusi panjang lebar antara Ayub dan kawan-kawannya, ternyata tidak ada kesimpulan yang memuaskan kedua belah pihak. Masing-masing bertahan dalam opininya, tentang hakikat penderitaan ini. Sebab seringkali manusia mendefinisikannya dengan pengertiannya sendiri. Dan bahkan tidak jarang manusia menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Inilah kesimpulan yang bisa saya ambil dari pembahasan ini.
  • Lewat penderitaan pengenalan akan Tuhan semakin bertambah-tambah. Hal ini merupakan pengalaman Ayub sendiri. Pada awal penderitaan yang dialaminya dia tidak sepenuh hati menerima kedaulatan Allah dalam hidupnya. Melainkan membela diri, bahwa sesungguhnya dia tidak layak untuk mengalami pencobaan itu. Karena hidupnya yang penuh dedikasi kepada Tuhan. Namun pada akhirnya pandangan Ayub jelas berubah, sehingga pada pasal 42:1-6 dinyatakan penyesalannya terhadap semua pembelaan diri dan pembenarannya. Dan dia mulai menyadari bahwa maksud dari penderitaan itu adalah untuk menguji imannya, sehingga lewat pencobaan itu pengenalnya akan Tuhan semakin disempurnakan.
  • Penderitaan dalam konsep Allah adalah proses pendewasaan kita, sehingga layak diberikan berkat yang lebih besar. Ketika semua yang dimilikinya hilang, Ayub jatuh miskin dan terbuang. Namun ketika dia melewati masa-masa yang itu tanpa kehilangan imannya, maka pada akhirnya dia mengalami pemulihan. Bahkan menerima dua kali lipat dari kepunyaannya dulu. Jadi penderitaan itu adalah ujian bagi anak-anak Tuhan sebelum mendapatkan kepercayaan (berkat) yang lebih besar (Ayub 42:12)

  • Inti dari penderitaan itu adalah iman. Sepanjang 42 pasal kitab Ayub, Allah tidak menjelaskan mengapa Ayub arus menderita. Dalam kesengsaraannya Ayub meminta jawaban dari Tuhan, tetapi Tuhan tuidak menjawab. Bahkan sahabatnya marah, mengatakan bagaimana mungkin manusia meminta pertanggungjawaban dari Allah. Tetapi Ayub tidak mundur, dan tetap meminta jawaban dari Tuhan. Dan ayub lulus dari penderitaan yang pahit dengan tetap bertahan pada imannya. Arah imannya tetap kepada Tuhan walaupun seolah-olah Tuhan sediri meninggalkannya (16:19-21)

Secara umum pengalaman Ayub ini adalah pelajaran bagi umat Tuhan saat ini. Supaya kita tetap bersandar dan berpegang kepada Tuhan. Memang dalam mengahadapi penderitaan itu dibeberapa kesempatan muncul protes Ayub. Namun pada akhirnya kemenangan dan pemulihan itu adalah hadiah yang setimpal atas kesabarannya.(arjuna lbt 2013)     

Popular Posts

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *