http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-land.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-trivia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/youth-ministry.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/eksegetis-study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/free-ebook-old-testament.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/christian-life.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/kristenpedia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/misiologi-great-commission.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/pendidikan-agama-kristen.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/pelayanan-anak.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/sermon.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/toko-buku.html

METODE KOMUNIKASI DALAM MISI RASUL PAULUS


Rasul Paulus mungkin adalah misionaris yang paling berhasil sepanjang zaman. Dari setiap perjalanan misi yang dia lakukan, berita Injil deperdengarkan di dunia Roma dan jemaat-jemaat yang berkembang didirikan. Dari misi yang dilakukan Paulus lahir pekabar-pekabar Injil yang baru. Tentu saja keberhasilan dalam pelayanan Rasul Paulus didukung banyak faktor. Tentu Roh Kuduslah yang bekerja dalam kehidupan Paulus dan dalam setiap pemberitaannya. Roh Kudus yang membuat seseorang menerima dan berubah oleh berita Injil itu. Hal ini diakuinya dalam banyak kesempatan dalam surat-suratnya.
Hal lain yang mendukung kesuksesan misi itu adalah strategi Rasul Paulus dalam perjalanan misinya. Perencanaan yang hebat disertai kuasa Roh Kudus menghasilkan tuaian yang besar dalam misi itu. Strategi menyangkut tempat, rute, dan metode penyampaian Injil itu. Satu hal lagi yang perlu ditambahkan disini adalah Paulus dalam setiap perjalanannya tidak pernah sendirian. Artinya dia tidak bekerja sendiri, melainkan melakukan pekerjaan tim.

PEMILIHAN TEMPAT
Dalam ketiga perjalanan misinya sebagian besar kota-kota provinsi Roma sudah disinggahi. Namun kita bisa lihat bahwa Paulus selektif dalam memilih tempat dimana dia akan memberitakan Injil.

Di kota (pusat-pusat komunikasi)
Kota-kota merupakan pusat pertemuan kebudayaan, dengan masyarakatnya yang majemuk. Kota merupakan tempat terkumpulnya informasi dan pusat penyebaran informasi yang sangat cepat. Dalam pelayanan Pekabaran Injil yang dilakukan Paulus, dia selalu memilih kota-kota besar di daerah kekaisaran Romawi. Tentu saja Paulus bisa memilih daerah pinggiran atau pedesaan untuk penginjilannya. Namun itu tidak dilakukannya, justru Paulus memanfaatkan rute dan jalan-jalan antar kota yang dibangun kekaisaran Roma.
            Penyebaran informasi selalu dari daerah kecil (desa) ke kota. Ketika berita Injil itu mulai tumbuh di kota maka berita itu akan menyebar di daerah-daerah sekitarnya.
 
Sinagoge
Misi penginjilan Paulus terutama adalah kepada bangsa non Yahudi. Namun dalam setiap misinya, ia tidak pernah melupakan bangsanya. Memberitakan Injil di sinagoge-sinagoge adalah hal yang biasa (Kisah 17:1-2). Sinagoge merupakan pusat ibadah orang Yahudi. Mereka yang tersebar di seluruh kekaisaran Romawi membentuk kumpulan sosial sendiri, dimana sinagoge menjadi pusat kehidupan sehari-hari orang Yahudi, baik dalam hal agama maupun hal sosial kemasyarakatan.
Melihat pentingnya sinagoge, Paulus selalu mengunjungi sinagoge di setiap kota yang dikunjunginya. Sinagoge menjadi pusat komunikasi dan penyebaran informasi dalam masyarakat Yahudi. Sehingga berita Injil akan cepat tersebar diantara orang Yahudi.

Kuil-kuil berhala
Kuil-kuil berhala tidak luput juga dari penginjilan Rasul Paulus. Sebagai tempat berkumpulnya masyarakat Yunani, Paulus menggunakannya sebagai tempat pemberitaannya. Kuil-kuil berhala pada masa itu  

Dipasar-pasar  (Kis 17:17)
Pasar sebagai pusat ekonomi, menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan. Suatu berita akan berkembang dan menyebar dengan cepat di pasar-pasar Romawi. Dalam proses pemberitaannya Paulus memanfaatkan keadaan ini, dengan tujuan penyebaran berita Injil itu.  

Ruang kuliah dan dunia filsafat orang Yunani.
Budaya Yunani yang menyenangi filsafat dan pengetahuan-pengetahuan yang baru, dapat dilihat dalam pola pendidikan mereka. Pada zaman itu di dunia Yunani telah ada wadah-wadah untuk mendapatkan pendidikan filsafat. Dalam Alkitab kita bisa baca adanya ruang kuliah Tiranus (Kis 19:9), Stoa (Kis 17:, dan lain lain. Dan orang- orang yang berkecimpung dalam dunia filsafat adalah orang yang berpengaruh dalam masyarakat Yunani. Mereka adalah pemimpin-pemimpin dalam masyarakat.
Rasul Paulus melihat peluang untuk mempengaruhi golongan ini, dan pada waktunya nanti bisa mempengaruhi masyarakat kecil. Di ruang kuliah Tiranus, setiap hari Paulus berbicara mengenai Injil. Proses komunikasi yang terjadi dalam ruang kuliah ini merupakan suatu peluang untuk berlanjutnya kepada receiver berikutnya.
          
METODE PENYAMPAIAN
Memulai komunikasi/pemberitaan dari pola pikir pendengar.
Di Athena (Kis 17:16-34) Rasul Paulus memulai pemberitaannya dengan apa yang dipikirkan oleh pendengarnya. Di depan sidang Aeropagus, Paulus membuka pembicaraan dengan membahas “allah yang tidak di kenal” yang topik yang menarik bagi semua anggota Aeropagus. Kota Athena merupakan pusat pendidikan filsafat pada masa itu. Berbagai macam aliran filsafat tumbuh subur di kota ini antara lain golongan Epikuros, aliran Stoa yang didirikan Zeno (336-264) SM). Di kota ini semua orang sibuk dengan ajaran atau hal-hal yang baru (Kis 17:21), sehingga ketika Paulus datang dengan berita yang dibawanya mereka mau mendengarnya.
Paulus memanfaatkan keingintahuan dan minat orang Athena. Memang komunikasi itu dimulai dengan pola pikir dari para pendengar yaitu tentang allah mereka. Namun Rasul Paulus tetap mempertahankan inti dari berita yang dia bawa yaitu Tuhan Yesus Kristus yang mati dan bangkit untuk keselamatan manusia.
 Kontekstualisasi dengan keadaan tempat dan waktu.
Di sinagoge dia mulai dengan membaca Perjanjian Lama (Kis 17:2-3) di Athena dimulai dengan allah yang tidak dikenal (Kis 17). Itulah gambaran kontekstualisasi Paulus dalam pekabarannya. Dengan orang Yahudi topik pembicaraannya adalah Taurat Musa, dengan orang Yunani dia bicara tentang filsafat Yunani, dan dengan penyembah berhala Paulus memulai pembicaraan dengan apa yang mereka pikirkan.
Diskusi/berdebat
Paulus tidak hanya menyampaikan berita Injil dengan cara-cara diplomasi saja. Disaat tertentu ketika dia ditantang untuk berdebat dia juga mau dengan gigih menyampaikan keyakinannya. Di Efesus dia terlibat dalam perdebatan dengan orang-orang Efesus tentang makna Injil Kristen (Kis 19:9).
Khotbah dan ceramah
Khotbah sebagai bentuk komunikasi massa, merupakan salah satu metode komunikasi yang dipakai oleh Paulus dalam pekabarannya.

 SURAT-SURAT SEBAGAI BENTUK KOMUNILASI NON-VERBAL
Dalam bahasa Yunani surat adalah epistole, dan bentuk Latin epistula yang mengartikan setiap jenis surat: mula-mula setiap komunikasi tertulis dari seorang kepada orang lain, atau secara pribadi perseorangan ataupun secara resmi. Demetrius (abad 1 SM) menyebut surat sebagai: setengah percakapan berdua[1].
Sepertiga kitab-kitab dalam Perjanjian Baru adalah surat-surat kiriman. Baik dari pribadi kepada pribadi maupun pribadi kepada jemaat. Sebagian besar diantaranya ditulis oleh Rasul Paulus. Surat kiriman menjadi salah satu bentuk komunikasi yang dipakainya untuk mengkomunikasikan firman Tuhan.
Setidak-tidaknya tiga belas surat kiriman Paulus terpelihara hingga kini[2]. Dalam surat-suratnya Paulus menulis berbagai macam pokok-pokok Kekristenan. Pengajaran dalam surat kiriman Paulus dikelompokkan menjadi:
·         Surat-surat mengenai akhir zaman (I dan II Tesalonika)
·         Surat-surat mengenai ajaran Keselamatan (I dan II Korintus, Galatia, Roma)
·         Surat-surat mengenai Kristus (Kolose, Filemon, Efesus, dan Filipi)
·         Surat-surat mengenai gereja (I dan II Timotius, Titus.
            Metode Paulus mengkomunikasikan ajaran-ajaran Kekristenan, dengan menggunakan surat-surat sangat efektif. Karena dalam surat-surat itu pokok-pokok pengajaran bisa disampaikan secara panjang lebar. Dan surat-surat itu bisa dibacakan secara berulang-ulang diantara jemaat-jemaat. Berita yang disampaikan lewat surat bisa menjangkau banyak orang dalam waktu yang panjang. Bahkan berita yang disampaikan Rasul Paulus dalam surat-suratnya masih bisa kita baca sampai saat ini.
            Metode komunikasi surat juga menembus batasan-batasan yang ada antara informan dan receiver. Ketika Paulus ada dalam penjara dia menulis surat kepada jemaat-jemaat. Jadi surat menjadi alat yang efektif untuk menyampaikan pesannya ketika penjara membatasinya untuk mengunjungi jemaat tersebut. Demikian juga ketika dia jauh tidak bisa mengunjung suatu jemaat, maka surat menjadi alat yang penting dalam pemberitaannya.



[1] J.D Douglas. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini II.YKBK . 2008. Hal 428.
[2] Walter M. Dunnett. Pengantar Perjanjian Baru. Gandum Mas. Malang. 2001. Hal.48

Popular Posts

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *