http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-land.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-trivia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/youth-ministry.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/eksegetis-study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/free-ebook-old-testament.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/christian-life.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/kristenpedia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/misiologi-great-commission.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/pendidikan-agama-kristen.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/pelayanan-anak.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/sermon.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/toko-buku.html

PENTINGNYA MEMPELAJARI ALKITAB


1.  Secara Teori


Untuk Menghasilkan Penafsiran Yang Benar

Dari segala pemahaman yang sudah dibahas dari bab satu sampai dengan bab dua ini, dapat dilihat bagaimana diperoleh banyak sekali pandangan mengenai Kitab Suci. Pandangan-pandangan tersebut tidak hidup dalam satu kesatuan zaman. Tetapi merupakan perkembangan dari setiap zaman ke zaman. Secara penafsiran-penafsiran yang ada, maka dapat digolongkan secara umum ke dalam dua bagian, yaitu liberal dan ortodoks. Namun faktanya adalah, masalah yang timbul bukan saja pada masalah kontra antara liberal dan ortodoks, melainkan sesama liberal dan sesama ortodoks juga. Semua berkata penafsirannya adalah benar berlandaskan Alkitab. Dengan demikian, dibutuhkan suatu penafsiran yang benar. Penafsiran benar yang dimaksud di sini adalah penafsiran yang didasarkan pada studi-studi eksegetis. Bukan mengangap diri paling benar, melainkan belajar berbicara apa yang dikatakan benar oleh Alkitab.

John Crampton menuliskan bahwa perlu beberapa pertimbangan gramatika-sintaksis, sejarah-kebudayaan, kontekstual, dan teologis. Dengan demikianlah, dapat menghasilkan suatu penafsiran yang benar, tanpa mengesampingkan kuasa Roh Kudus.





Untuk Tidak Mengulangi Kesalahan Yang Sama

Tujuan studi Kitab Suci yang kedua ini adalah terkait dengan sikap yang dimiliki oleh setiap teolog-teolog Kristen yang hidup memakai ilmu teologinya bukan berlandaskan keinginan untuk mengikuti Alkitab, melainkan pendahulunya. Oleh sebab itu penting untuk mengambil sikap yang tepat ketika studi terhadap Kitab Suci.

Kesalahan sama yang dimaksud di sini ialah kesalahan yang dilakukan oleh beberapa orang yang semangat dalam menggali kebenaran Kitab Suci namun dengan pengertian atas Kitab Suci yang timbul berdasarkan ketidakpuasan dan keinginan untuk mempertahankan kebenaran Kitab Suci sesuai apa yang dikatakan pendahulunya tentang Kitab Suci. Dengan demikian, kebenaran Alkitab menjadi sesuatu yang absolut tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang mengarahkan seseorang kepada pandangan bahwa Allah adalah subjek yang paling utama dalam hal mengerjakan para pembaca Alkitab untuk menafsirkan dan melakukan kebenaran yang ada di dalamnya.


2.  Secara Praktis

Manfaat secara praktis di sini sangat dibedakan jelas dari manfaat secara teori. Walaupun ada beberapa hal praktis yang harus dilakukan pada manfaat teori di atas. Hal yang paling mendasar di sini adalah terlihatnya manfaat dari Kitab Suci dalam perilaku hidup manusia sehari-hari. Subjeknya adalah Kitab Suci. Dengan demikian, manusia yang membaca Kitab Suci merupakan objek yang harus dikenakan tindakan oleh subjek. Jadi, dalam hal ini, isi dari tindakannya adalah harus sesuai denga apa yang dikatakan oleh Kitab Suci kepada para pembaca.




Bermanfaat Untuk Mengajar


Manusia yang membaca Kitab Suci akan memperoleh ajaran dalam hidupnya tentang bagaimana ia harus hidup. Ajaran yang dimaksud Kitab Suci tentunya memiliki perbedaan dengan kitab yang tidak suci. Masalahnya adalah karena adanya pengajar-pengajar palsu yang tidak sesuai dengan Kitab Suci.

John R. W. Stott mengatakan dalam bukunya bahwa: Alkitab bermanfaat baik bagi pengakuan maupun tingkah laku (2Tim. 3:16b). Pengajar-pengajar palsu menceraikan kedua hal itu, manusia harus mengawinkannya. NEB mengungkapkan dengan gambling berkaitan dengan pengakuan manusia bahwa Alkitab bermanfaat ‘dalam mengajarkan yang benar dan menyangkal yang salah’.





Bermanfaat Untuk Menyatakan Kesalahan


Selanjutnya adalah berhubungan dengan benar dan salah. Kitab Suci memiliki tolak ukur untuk memastikan sesuatu hal salah atau benar, termasuk kehidupan sehari-hari para pembaca Kitab Suci. Tetapi yang menjadi inti dari poin di sini adalah bagaimana manusia yang membaca Kitab Suci dibawa ke dalam suatu pemahaman bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak lepas dari kesalahan. Di sini jugalah terdapat peran utama Kitab Suci untuk membuat manusia yang membaca Kitab Suci memiliki pemahaman untuk dapat kembali melakukan yang benar. Karena tidak mungkin Kitab Suci mengarahkan manusia kepada sesuatu yang salah. John R. W. Stott mengatakan bahwa sehubungan dengan tingkah laku, Alkitab bermanfaat ‘untuk memperbarui kelakuan menanam disiplin dalam hidup yang baik’.




Bermanfaat Untuk Memperbaiki Kelakuan


Poin ini tentunya berhubungan dengan poin kedua dari manfaat Kitab Suci secara praktis. Dibedakan di sini adalah karena adanya fokus yang memisahkan pemahaman antara ketika terjadi dinyatakan kesalahan manusia, dengan fokus supaya manusia senantiasa memiliki kelakuan baik dalam kehidupan sehari-harinya.





Bermanfaat Untuk Mendidik Orang Dalam Kebenaran


Poin yang terakhir ini menjadi penutup bagi manfaat yang diperoleh dari Kitab Suci. Oleh sebab itu poin yang terakhir ini merupakan pelengkap dari ketiga poin sebelumnya. Setelah posisi manusia sudah dalam posisi benar, maka selanjutnya perlu untuk dilengkapi dengan aturan yang ada dalam kebenaran tersebut, dengan tujuan supaya manusia yang sudah memperoleh pembenaran melalui Kitab Suci, mampu untuk bertahan dalam kebenaran, yaitu dengan cara dididik melalui ketaatan terhadap apa yang dikatakan oleh Kitab Suci. Dengan demikian, J. Wesley Brill memberikan kesimpulan bahwa:
Alkitab mengajarkan kepada manusia kebenaran, menegur manusia atas kesalahannya dan memimpin kepada apa yang baik. Manusia perlu diajar, diperbaiki dan ditegur. Bagi pengabar Injil kitab yang paling penting adalah Alkitab dan bukan kitab-kitab ilmu pengetahuan dunia ini. Alkitab diwahyukan dengan maksud agar tiap-tiap hamba Allah sempurna dan suci. Kitab itu sempurna dan Kitab itu menyempurnakan manusia. Alkitab cukup untuk memenuhi tiap-tiap keperluan manusia. Alkitab itu menjadikan manusia yang diperlengkapi untuk tiap-tiap pekerjaan yang baik..

Dengan demikian, berdasarkan pernyataan di atas, J. Wesley Brill memberikan kesimpulan bahwa manusia memerlukan Alkitab. Tujuan manusia memerlukan Alkitab adalah supaya manusia menjadi hamba-hamba Allah. Oleh sebab itu J. Wesley Brill menyatakan bahwa: Manusia tidak memerlukan filsafat-filsafat manusia, dongeng-dongeng atau tradisi-tradisi, untuk membuat manusia menjadi hamba-hamba Allah. manusia perlu mengasihi Alkitab, teristimewa pada masa-masa yang sukar itu.




Popular Posts

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *