http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-land.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-trivia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/youth-ministry.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/eksegetis-study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/free-ebook-old-testament.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/christian-life.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/kristenpedia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/misiologi-great-commission.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/pendidikan-agama-kristen.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/pelayanan-anak.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/sermon.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/toko-buku.html

PERNIKAHAN DALAM PERSFEKTIF ALKITAB






PENDAHULUAN

Betapa banyak alasan berbeda diberikan oleh orang yang hendak menikah, dewasa ini ada begitu banyak orang Kristen yang membagun rumah tangganya dengan alasan-alasan atau tujuan pernikahan yang salah. Bahkan, banyak orang menikah tanpa mengetahui apa tujuannya mereka menikah.
Banyak orang menikah karena mereka merasa "harus menikah" itu merupakan panggilan alam di mana sebagai mahluk hidup mutlak harus menikah. Jadi, kalau sampai usia tertentu belum menikah, maka keadaan itu dianggap sebagai aib, menyalahi natur, tidak normal dan berbagai pandangan atau komentar lainnya. Tradisi dan mitos yang salah tentang batasan usia untuk menikah kadang-kadang lebih kuat mendorong seseorang untuk segera menikah dengan tanpa perhitungan, sehingga persiapan dan pengertian yang benar tentang membangun sebuah keluarga berkualitas tidak lagi menjadi urutan utama. Selanjutnya karena terburu-buru atau kejar target, usia dijadikan sebuah pilihan untuk menjadi dasar membangun pernikahan maka bisa dimungkinkan juga di saat orang tersebut telah menemukan pasangan yang akan segera diajak menikah, mereka belum begitu saling mengenal dengan baik antara satu dengan yang lainnya, sehingga setelah menikah banyak kesulitan-kesulitan yang dialami saat menghadapi pasangan.
Dunia memang terus-menerus mengalami perubahan kearah peradaban yang semakin liberal. Kesakralan lembaga pernikahan semakin hilang maknanya dan ikatan pernikahan semakin longgar. Demikian juga saat ini Banyak pemuda ingin cepat menikah karena terlalu ’ngebet’ dengan kekasihnya, atau karena tidak dapat menahan hawa nafsunya yang menggelora. Tujuannya untuk menikah hanyalah satu yaitu ingin cepat-cepat menikmati tubuh kekasihnya, agar tidak ada perasaan berdosa lagi, atau mendapat tempat penyaluran yang sah di mata hukum ketika melakukannya. Seks dan pernikahan acap kali dianggap sebagai "melaksanakan kebiasaan alam," tapi banyaknya kekecewaan pernikahan adalah bukti bahwa pernikahan bukanlah hubungan naluriah semata. Di sini terlihat kesalahan yang paling parah dalam alasan membangun pernikahan. Pengertian pernikahan hanya dipersempit di wilayah fisik atau hanya memperhatikan aspek seksual saja.

PERNIKAHAN DALAM PERJANJIAN LAMA
Membahas tentang pernikahan memiliki banyak pengertian karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam memaknainya. Sebagian orang mengaitkan pernikahan dengan "berada dalam cinta". Kata pernikahan menyebabkan orang lain memikirkan suatu pesta pernikahan. Pemerintahan juga memiliki pengertian pernikahan yang dinyatakan dalam hukum mengenai pernikahan. Hukum-hukum ini berkaitan dengan masalah-masalah seperti usia, keluarga, harta dan perceraian. Hukum-hukum manusia bermanfaat, tetapi gagasan tentang pernikahan tidak berasal dari manusia. MelaiNkan dari si pencipta, itu sebabnya untuk memahami apa yang Allah nyatakan mengenai pernikahan, selayaknya setiap orang melihat dari kebenaran Alkitab apa yang Alkitab nyatakan mengenai pernikahan. Maka penulis akan menjelaskan terlebih dahulu tinjauan umum pernikahan dalam Perjanjian Lama.


Pernikahan Sebagai Lembaga Pertama Yang Diciptakan Allah
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kejadian 1:1). Dia menciptakan daratan dan lautan, matahari dan bulan, tumbuhan dan hewan, dan pada mulanya, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan serta menyatukan mereka bersama dalam pernikahan (Kejadian 1:27-28). Pernikahan merupakan gagasan dari Allah, itu sebabnya setiap orang percaya selaknya memakai Alkitab untuk menjelaskan arti pernikahan dan keluarga.
Tuhan Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kejadian 2:18

Pernyataan ini mengenai sifat dasar manusia yang memiliki keinginan berteman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja" ia tidak diciptakan sebagai mahluk yang sama sekali tidak memerlukan orang lain, tetapi sebagai mahluk yang berpasangan. Jawaban Allah terhadap kesendirian manusia ialah dengan menciptakan "seorang penolong" yakni "pasangan" yang sepadan dengan Adam. Allah melihat kesedirian Adam merupakan suatu hal yang "tidak baik" maka dalam hal ini Allah yang memiliki inisiatif memberikan seorang pendamping bagi Adam. Adam tidak menemukan "seorang penolong yang sepadan baginya" (Kejadian 2:19-20), di sini bisa dilihat bahwa Allah menciptakan Adam sebagai mahluk yang membutuhkan seorang pasangan.

Kemudian Allah menciptakan (harafiah ‘membangun’) perempuan dari tulang rusuk Adam dan membawa kepadanya (Kejadian 2:21-22). Setelah perempuan diciptakan, Allah membawa perempuan itu kepada Adam. Allah "membawa" perempuan kepada Adam menunjukkan keaktifan dari pihak Allah. Ini sesuai dengan Kejadian 2:21 ketika Adam tertidur (pasif) dan Allah (aktif) menyediakan pasangan bagi Adam. Lalu Adam berkata: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki" (Kejadian 2:23) Pernyataan Adam akan keberadaan perempuan menunjukkan betapa Adam mendambakan pasangan hidup. Maka dalam Perjanjian Lama, pernikahan merupakan lembaga pertama yang didirikan oleh Allah. Allah yang merancang pernikahan, Allah juga yang mempersatukan Adam dan Hawa sebagai satu keluarga.
Setelah manusia jatuh dalam dosa, pernikahan menjadi tidak lagi sesuai seperti apa yang Allah rancangkan pada mulanya. Dalam kejadian pasal 3 dan keseluruhan kitab-kitab Perjanjian Lama menunjukkan kedaan-keadaan pernikahan yang tidak lagi adanya kesatuan, seperti poligami dan perceraian.

Status Pernikahan
Ada dua jenis pernikahan dalam berbagai budaya, pertama ialah monogami yakni suatu pernikahan antara satu suami dan satu istri saja. Jenis pernikahan kedua ialah poligami yaitu suatu pernikahan di mana ada lebih dari satu suami. Dalam kisah pernikahan di Perjanjian Lama terdapat kedua bentuk status pernikahan yang demikian.

Pernikahan Monogami
Kejadian 2:18 mengatakan bahwa Allah menjadikan Hawa sebagai penolong bagi Adam. Dalam Septuaginta kata "penolong" adalah parakletos kata yang sama dipakai juga untuk Roh Kudus dalam Alkitab bahasa Yunani. Perlu diperhatikan bahwa kata parakletos adalah bentuk tunggal sedangkan bentuk jamaknya adalah parakletoui. Jadi tidak dikatakan "penolong-penolong yang sepadan dengan dia" ini menyatakan bahwa tidak ada orang ketiga di dalam suatu hubungan pernikahan.
Di samping itu Pernikahan monogami juga dirancangkan Allah sebagai gambaran akan hubungan kasih-Nya dengan umat-Nya. Pada Perjanjian Lama, dapat dilihat bagaimana Allah menjadikan Yerusalem (bangsa Israel) sebagai istri-Nya (Yehezkiel 16:3-14; Yesaya 54:6-dst; 62:4-dst; Yeremia 2:2; Hosea 2:19; Kidung Agung 1-dst) untuk menggambarkan kesetiaan-Nya kepada umat manusia.

Pernikahan Poligami
Alkitab menyatakan bahwa pernikahan secara poligami mulai terjadi sejak kejatuhan manusia kedalam dosa. Lamekh merupakan laki-laki pertama dalam Alkitab yang mempunyai dua istri (Kejadian 4:19-24). Selanjutnya Alkitab menunjukkan dalam perjalanan hidup manusia yang semakin rusak, bahwa praktik poligami semakin menyebar. Sampai orang-orang beriman zaman Perjanjian Lama pun terbawa-bawa pada pola pikir yang demikian dan banyak diantara mereka yang berpoligami. Beberapa orang terkenal dalam Perjanjian Lama melakukan poligami adalah Abraham (Kejadian 16:1-3), Yakub (Kejadian 29:20-28), Daud memiliki sejumlah istri tetapi mereka yang paling dikenal dalam sejarah adalah Abigail dari Karmel (1 Samuel 25:40-43, I Tawarikh 3:1); Mikhal anak perempuan Saul (II Samuel 3:13); dan Batsyeba (I Tawarikh 3:5).

Sementara poligami dipraktikkan, maka status dan hubungan antar para istri dapat dikumpulkan dari cerita-cerita Alkitab. Di mana dalam praktek pernikahan poligami adalah biasa jika seorang suami lebih tertarik kepada istri yang satu dari pada istri lainnya yang ia miliki. Dalam Ulangan 21:15-17 dikatakan bahwa seorang suami akan mencintai istri yang satu dan membenci yang lain. Timbul juga kecemburuan dalam keluarga karena poligami, seperti halnya kedua istri Elkana saling memusuh (1Samuel 1:6; bnd Imamat 18:18). Pilih kasih dan perlakuan yang mendahulukan pihak tertentu mau tidak mau pernikahan dalam bentuk ini tidak dapat berjalan dengan harmonis. Hal ini menyatakan bahwa sangat buruknya keadaan dalam pernikahan poligami dan memperlihatkan betapa pernikahan poligami tidak membahagiakan.

Perceraian
Didalam Ulangan 24:1-4 terdapat hukum yang mengatur perceraian ayat ini berisikan aturan mengenai seorang suami yang mau menceraikan istrinya harus menulis surat cerai dan menyerahkan surat itu ke tangan istrinya. Dalam Markus 10:5 Yesus berkata: Musa ‘mengizinkan’ perceraian, hanya karena ketegaran hati umat Israel. Artinya, Musa tidak memerintahkan perceraian, tapi mengatur praktik hidup yang nyata ada dan bentuk hukum dalam Ulangan 24:1-4 sebaiknya dipahami dalam hal ini. Bagaimanapun terjemahannya, dari bagian ini dapat disimpulkan bahwa perceraian dipraktikkan dan semacam perjanjian diberikan kepada istri, kemudian istri ini bebas menikah. Alasan-alasan perceraian di sini diberikan dalam kaidah-kaidah umum, sehingga tafsiran yang tepat dan pasti tak dapat diberikan. Suami mendapati ‘sesuatu yang tidak senonoh’ pada istrinya. Kata-kata Ibrani ‘erwat davar‘ (harafiah‘sesuatu yang telanjang’), terdapat hanya sekali lagi sebagai ungkapan dalam Ulangan 23:14. Tidak lama sebelum zaman Kristus, Syammai menafsirkan ungkapan itu hanya sebagai ketidaksetiaan, tetapi Hillel memperluas artinya menjadi sesuatu yang tidak menyenag kan bagi suami. Perlu diingat, bahwa Musa di sini bukanlah hendak menyatakan dasar-dasar perceraian, tapi menerima perceraian itu sebagai fakta nyata. Dari hal ini dapat dilihat bahwa bagi bangsa Yahudi pernikahan merupakan lembaga yang menjadi hak mutlak kaum laki-laki, sehingga seorang suami memiliki hak untuk mengajukan cerai kepada istrinya. Maka pada zaman Perjanjian Lama di kalangan bangsa Israel praktek percerai ada terjadi di dalam pernikahan.
Hukum-hukum mengenai perceraian menyebutkan tentang keadaan yang tidak mengijinkan adanya perceraian dan aturan-aturan mengenai hubungan kedua belah pihak setelah perceraian terjadi. Dalam kasus ini perlindungan terhadap perempuan rupanya menjadi pokok utama hukum-hukum tersebut. Dalam ulangan 22:13-19 ada larangan untuk menceraikan istri yang telah dinikahi karena seorang suami telah menjadi benci dan menuduh istrinya tidak perawan lagi. Demikian juga dalam Ulangan 22:28-29 ada larangan untuk menceraikan perempuan yang harus dinikahi oleh laki-laki yang telah diperkosa. Peraturan dalam Ulangan 24:1-4 menjadi pokok pertentangan antara Yesus dan orang Farisi. Dalam kasus ini, suami diminta menulis surat cerai untuk melindungi istri yang mana agar istri tidak difitnah oleh suami dengan tuduhan-tuduhan di kemudian hari. Jika tidak, istri bersama suami baru yang kemudian dapat dituduh berzinah. Suami pertama dilarang mengambil kembali perempuan apabila suaminya yang berikut menceraikannya atau meninggal dunia. Dapat disebutkan lagi kasus perempuan tawanan yang hendak diceraikan dan tidak boleh dijual sebagai budak, kalau suaminya tidak merasa puas.

Adanya hukum ini menyatakan bahwa masalah perceraian merupakan masalah yang penting untuk ditanggapi dan ditangani, yakni kewajiban suami untuk menulis surat merupakan prosedur untuk mencengah perceraian yang dilakukan dengan sewenag-wenang. Dengan demikian walaupun dalam hukum ini tidak ada penjelasan terperinci mengenai bisa tidaknya perceraian, namun hukum yang mengatur tentang apabila terjadinya perceraianini menyatakan bahwa sesungguhnya Musa sedang mengatasi maraknya tingkat perceraian yang ada pada masa itu, sehingga tidak dapat dipungkiri pratek perceraian terjadi pada saat itu.
Dalam Maleakhi 2:13-16 ada serangan yang tidak mengenal kompromi terhadap perceraian, yang memuncak dengan kecaman yang terang-terangan: "Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel". Dalam Kitab Maleakhi kata "perceraian" berarti "menutup (diri) dengan kekerasan". Poligami menggandakan hubungan tunggal yang Allah kehendaki, sedangkan perceraian menyatakan hubungan pernikahan sudah hancur, yakni hubungan pernikahan sudah gagal atau berakhir. Sangat jelas dalam kitab terakhir dari Perjanjian Lama, nabi Maleakhi menentang perceraian dan perceraian merupakan perbuatan yang dibenci oleh Tuhan.

Ajaran Pernikahan Dalam Kitab Injil
Setelah awal mula Allah menyatukan pernikahan pasangan Adam dan Hawa, di dalam Matius 19:5-6 dan Markus 10:6-9 Yesus menyatakan kembali prinsip pernikahan yang terdapat di dalam Kejadian 1:27; 2:24. Penggabungan kedua ayat ini dipakai oleh Yesus untuk membuktikan bahwa persatuan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam pernikahan berlandaskan tindakan dan karya Allah sebagai Pencipta. Disini Yesus memperbaharui dan mengembalikan makna pernikahan seperti yang direncanakan Allah dari semula.

Ajaran Pernikahan Dalam Suratan Paulus
Dalam surat 1 Korintus 7:1-16 Paulus menuliskan jawabannya atas persoalan jemaat yang ada disana yakni persoalan mengenai pernikahan. Mengenai pernikahan di dalam zaman itu, bahkan sampai di zaman sekarang ada dua pandangan ekstrim yang salah. Pertama, pernikahan adalah suatu keharusan (necessity) kalau seseorang tidak menikah, orang tersebut akan mendapatkan aib atau berarti Tuhan kurang memberkati orang tersebut. Pada umumnya pikiran ini dianut oleh kebudayaan Timur. Baik laki-laki maupun perempuan (perempuan lebih dituntut) akan dipaksa untuk menikah kalau sudah dewasa. Orang yang tidak menikah seperti ada sesuatu yang kurang atau tidak lengkap. Kedua, orang yang betul-betul mengasihi Tuhan dan mau hidup bagi Tuhan sepenuhnya harus meninggalkan pernikahan serta masuk dalam kehidupan membujang dengan demikian dianggap sebagai orang yang lebih kudus.

Bagi Paulus tidak menikah memang baik tetapi Paulus tidak berkata bahwa "hal itu lebih baik", yang dimaksudkan Paulus dalam hal ini adalah tidak menikah itu baik jika sesorang tersebut mampu melakukannya karena mereka menerima dari Allah karunia yang khas (ayat 7). Tuhan Yesus memberikan pengajaran tentang hal ini dalam Matius 19:10-12, yakni hal tersebut bergantung atas karunia Tuhan kepada tiap-tiap orang, bagi mereka yang mendapatkan karunia tidak menikah maka mampu untuk menahan diri dari keiginan hawa nafsu, jadi tidak menikah baik hanya alam keadaan khusus.

Sedangkan bagi orang-orang yang tidak mempunyai karunia membujang, Paulus menyatakan lebih baik menikah karena bahaya percabulan, supaya tidak hangus oleh hawa nafsu. Namun ini tentu bukan satu-satunya alasan mengapa harus menikah karena pada awal mula penciptaan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, pernikahan merupakan rancangan dari Allah yang ditetapkan-Nya di dalam Kejadian 2:18, Jadi pernikahan ada bukan karena dosa. Demikian Paulus juga memandang pernikahan bukan sebagai suatu keadaan yang kurang baik dan jangan seseorang menyangka bahwa mereka yang menikah berdosa. Paulus menyatakan "baiklah setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri". Pernyataan ini menyatakan tidak diizinkan seorang suami-istri memiliki lebih dari satu pasangan yang istilah sekarang dinamakan poligami.

Selanjutnya Paulus dengan tegas mengatakan bahwa yang ia katakan bukan ide dari diri sendiri tetapi perintah dari Tuhan, yakni seorang istri maupun suami tidak boleh menceraikan pasangannya. Namun bagi mereka yang telah bercerai ada dua pilihan, yaitu tetap hidup tanpa pasangan baru dalam artian tidak menikah lagi dengan orang lain atau kembali lagi pada pasangan yang lama. Konteks yang lainnya suatu pernikahan di mana ada pasangan yang belum percaya, dinyatakan kalau yang tidak percaya menceraikan, maka pernikahan itu tidak mengikat lagi. Namun Paulus menyatakan bagi pihak orang percaya untuk tidak menceraikan pasangan yang belum percaya, melainkan beriman bahwa suatu saat pasangan yang belum percaya itu bertobat dan menerima Yesus Kristus. Maka dalam hal ini perceraian tidak boleh terjadi karena inisiatif dari pihak orang yang sudah percaya.



Popular Posts

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *