http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-land.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-trivia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/youth-ministry.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/eksegetis-study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/free-ebook-old-testament.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/christian-life.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/kristenpedia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/misiologi-great-commission.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/pendidikan-agama-kristen.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/pelayanan-anak.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/sermon.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/toko-buku.html

Berapa Kitab dalam Alkitab?

Dalam kitab Katolik terdapat lebih banyak kitab daripada Alkitab yang digunakan orang- orang Protestan. Dari hal tersebut menimbulkan pertanyaan yakni atas dasar apakah beberapa kitab dipilih untuk dimasukkan kedalam Alkitab dan mengapa kitab- kitab yang lain ditolak?. Perbedaan kedua Alkitab tersebut terletak pada sebelas kitab tambahan yang disisipkan antara Perjanjian Lama- Perjanjian Baru dalam Alkitab Katolik, dan kitab- kitab tersebut disebut "apokrif" (tersembunyi). Melihat perbedaan ini mungkin kita akan bertanya, mana yang betul? Apakah Alkitab Katolik atau Alkitab Protestan?
Kata "kanon" berarti tongkat pengukur yang dipakai untuk menilai berbagi kitab dalam Alkitab sebagai layak untuk disebut Firman Allah. Penemuan kanonitas dibuktikan yakni, pertama kitab- kitab yang memiliki nada keabsahan/ keotoritasan yang dapat mempertahankan diri, seperti halnya Musa yang menyatakan dirinya adalah jurubicara Allah dan nabi- nabi PL yang mengatakan "dan Firman Tuhan datang kepadaku" sangat menegaskan dengan kuat bahwa berita yang disampaikan berasal dari Allah. Demikian juga halnya dengan kitab Ester yang tetap menunjukkan pemeliharaan Allah begitu nyata dan memiliki keabasahan/ keotoritasan yang dapat mempertahankan diri sekalipun tidak terdapat kata "Allah". Kedua, perihal kepenulisan kitab yang ditulis oleh seorang hamba Tuhan memiliki materi yang jelas dari kuasa Allah yang mengubah hidup. Alkitab yang ditulis dengan berbagi penulis dan dalam gaya bahasa yang bebeda tidak terlepas dari peranan Allah yang telah mengilhami para penulis, sehingga Alkitab tersebut absah dan memiliki nilai keotoritasan.


Berdasarkan kata-kata Paulus tentang dua perjanjian, umat Kristiani menyebut ke-39 buku dalam Kanon Ibrani ini Perjanjian Lama, karena bagian ini berisi perjanjian Allah khususnya dengan Abraham dan keturunannya. Ini untuk membedakannya dari Perjanjian Baru, yang merupakan perjanjian yang diperbarui antara Allah dengan semua orang, yaitu melalui pribadi Yesus Kristus. Memang Perjanjian Lama sudah dipakai pada zaman rasulrasul dan dalam kebaktian-kebaktian Kristiani.

Perjanjian Lama dianggap penting dalam hubungannya dengan Kristus dan pekerjaanNya. Penting juga dicatat bahwa Perjanjian Lama adalah Alkitab Yesus Kristus - ajaran Yesus didasarkan pada Perjanjian Lama, dan Yesus menyatakan bahwa nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama digenapi dalam diri-Nya. Pada awal abad ke-3, Bapa-bapa Gereja mulai membedakan buku-buku Deuterokanonika dari ke-39 buku Perjanjian Lama, tetapi mereka masih memakai keduanya. Pada abad ke-4 sampai dengan abad pertengahan, dalam Sidangsidang Gereja setempat, mula-mula dimasukkan 39 buku Perjanjian Lama, 27 buku Perjanjian Baru, dan Buku-buku Deuterokanonika dalam kanon Alkitab. Walaupun seorang Bapa Gereja yang bernama Jerome tidak menyetujui bahwa buku-buku Deuterokanonika adalah tulisan suci, tetapi secara tradisi pemakaian buku-buku itu berjalan terus. Setelah Reformasi, Gereja Protestan menolak buku-buku Deuterokanonika yang mereka sebut sebagai Apokripa – artinya 'tersembunyi'. Sebaliknya Gereja Roma Katolik pada Sidang Gereja (Konsili) di Trent tahun 1546 menentukan satu daftar buku-buku yang termasuk kanon, termasuk di dalamnya buku-buku Deuterokanonika. Sedangkan Gereja Yunani Ortodoks pada Sidang Sinode di Yerusalem tahun 1672 menerima buku-buku yang diperdebatkan itu, sedang Barukh, 1 Makabe dan 2 Makabe ditolak. (Patut dicatat bahwa penulis-penulis Perjanjian Baru mengutip 38 dari ke-39 buku Perjanjian Lama. Tetapi penulis-penulis Perjanjian Baru tidak mengutip dari Deuterokanonika). Jadi menurut Anda mana yang benar??


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *