http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-land.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-trivia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/youth-ministry.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/eksegetis-study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/free-ebook-old-testament.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/christian-life.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/kristenpedia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/misiologi-great-commission.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/pendidikan-agama-kristen.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/pelayanan-anak.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/sermon.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/toko-buku.html

Pembenaran: Oleh Iman, Sakramen Atau Kedua-Duanya?




Selama tiga abad pertama dari sejarah gereja, doktrin keselamatan karena kasih karunia oleh iman mengandung tingkat kejelasan yang berbeda- beda sebab para bapak rasuli terkadang menekankan perlunya perbuatan. Demikian juga halnya pada abad permulaan adanya paham sakramentalisme (sakramen datang melalui saluran- saluran kasih karunia dari gereja) oleh bapak- bapak rasuli yakni sakramen babtisan dan perjamuan kudus (sebagai "obat keabadian" penangkal supaya tidak mati tetapi beroleh hidup kekal yang diberikan saat babtisan dan setelah itu adanya kesucian hidup untuk menjamin seseorang akan masuk surga ) diperlukan untuk memperoleh keselamatan, seperti Hermas (± tahun 100), Ignatius (± 100 TM), dll. Berdasarkan pemahaman tersebut menunjukkan bahwa para bapak- bapak gereja tidak memiliki pemikiran sistematis doktrin keselamatan karena kurangnya memahami surat- surat kiriman Paulus dan lebih memahami tulisan- tulisan Petrus dan Yakobus.

Kasus tersebut juga dialami Luther yakni bagaimanakah manusia berdosa dapat dibenarkan berdiri dihadapan Allah. Melalui berbagai tindakan yang dilakukannya seperti pengakuan dosa (indulgensia) kepada para imam bahkan perbuatan- perbuatan yang memaksanya supaya mencapai kesempurnaan untuk dapat dibenarkan dihadapan Allah tidaklah dapat memastikan apakah Allah dapat puas dengan segala tindakannya. Akan tetapi melalui penyelidikan terhadap surat Roma, Luther memahami bahwa seseorang dapat dibenarkan oleh iman tanpa melakukan Taurat, yang mana pembenaran berarti Allah menyatakan seorang berdosa sebagai benar meskipun ia tetap tidak sempurna (Rm. 4:5).

Penjabaran kasus diatas menjelaskan bahwa sangat perlunya memahami doktrin keselamatan (pembenaran) secara tepat. Pembenaran hanya didapat oleh iman tanpa perbuatan sebab perbuatan tidak dapat menghapuskan satu dosapun. Dengan kata lain, orang percaya tidak berbuat baik supaya diselamatkan tetapi berbuat baik karena telah diselamatkan. Demikian juga mengenai babtisan, perjamuan kudus bahkan api penyucian tidak dapat menegaskan keselamatan dari Allah sebab keselamatan merupakan pekerjaan Allah didalam hati manusia.


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *