http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-land.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/bible-trivia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/youth-ministry.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/eksegetis-study-biblika.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/free-ebook-old-testament.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/christian-life.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/kristenpedia.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/misiologi-great-commission.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/pendidikan-agama-kristen.html http://www.pustakakristen.com/2017/01/pelayanan-anak.html http://www.pustakakristen.com/2017/02/sermon.html http://www.pustakakristen.com/2016/04/toko-buku.html

PERANAN RASIO UNTUK MENGENAL ALLAH

Mungkinkah manusia memahami keberadaan Allah dengan akal kita? Seringkali timbul pertanyaan bagaimana caranya memahami Allah. Apakah hanya memakai perasaan atau hanya dengan memakai akal untuk mengenal Tuhan. Dan bagaimana sesungguhnya peranan otak manusia dalam hubungannya dengan pengenalan akan Allah?

Penggunaan Rasio secara Negatif

Erasmus yang terkenal sebagai bapak humanisme, pernah menyatakan bahwa akal budi manusia itu harus bersifat otonom. Dengan kata lain Erasmus hendak membawa rasio keluar dari kehendak Allah. Itu artinya rsio hanya mau tunduk kepada hukumnya sendiri. Hal ini tercermin dari makna kata otonom itu sendiri. Dalam bahasa Yunani otonom adalah "autos" yang berarti sendiri dan nomos artinya hukum. Jadi akal budi atau rasio yang mengikuti hukumnya sendiri. Kaitannya dengan studi tentang Allah, maka Allah itu harus bisa ditelan oleh rasio. Apabila tidak, maka Allah itu bukan suatu keberadaan tetapi hanya suatu imajinasi. Mungkinkah rasio manusia mampu "menelan" Allah? Jawabnya adalah suatu kemustahilan.


Penggunaan Rasio Secara Positif.
Dalam studi tentang Allah memang perlu memakai rasio, agar kita tidak disesatkan oleh banyaknya teisme di dunia ini. Sesungguhnya ketika kita belajar tentang Allah peranan iman dan rasio tidak bisa dipisahkan dan ditukar posisikan. Sebab Alkitab berkata "karena iman kita mengerti" (Ibrani 11:3). Dalam kalimat yang sederhana ini, terungkap relasi yang tepat dan benar antara iman dan ilmu, antara penyataan dan rasio. Mengomentari ayat ini, maka Anselm seorang tokoh gereja abad 10, berujar bahwa " aku beriman agar aku dapat mengerti". Dengan kata lain iman itu mendatangkan pengertian.

Memang benar orang menyebut rasio itu "the reasoning power of man" artinya rasio merupakan daya berpikir manusia. Tetapi kita harus seperti yang dikatakan Paulus bahwa "segala pikiran manusia harus ditawan dan ditaklukan pada Kristus (2Kor 10:5). Jika tidak demikian maka rasio itu akan menjerumuskan kita kedalam dosa (Roma 14:23). Jadi dalam hal ini rasio harus tunduk kepada hukum Allah. Dalam kapasitas tertentu kita bisa otonom dan sebagai mahkluk sosial lita memang heteronomi (hetero nomos), artinya ikut aturan main hukum yang lain. Tetapi mahkluk ciptaan Allah kita harus theonomi (theos nomos), artinya tunduk kepada hukum Allah.


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *